ERP & Business

Kesalahan Mindset Business Owner Saat Mewariskan Bisnis & Cara Menghindarinya

5 Januari 2026
Kesalahan Mindset Business Owner Saat Mewariskan Bisnis & Cara Menghindarinya

Banyak pemilik bisnis di Indonesia ingin usahanya bisa diteruskan oleh anak atau penerusnya dari lingkup keluarga. Namun pada praktiknya, banyak proses alih generasi (succession) justru berakhir dengan konflik keluarga, usaha menurun, atau bahkan tutup karena kesalahan mindset sejak awal.

Mengapa Banyak Bisnis Gagal Saat Alih Generasi?

Riset PwC Family Business Survey menunjukkan bahwa:

  • hanya ±34% bisnis keluarga berhasil bertahan ke generasi kedua
  • kurang dari 12% bertahan hingga generasi ketiga

Salah satu penyebab terbesar bukan pada model bisnisnya, melainkan pada mindset pemilik usaha, terutama ketika proses warisan bisnis dilakukan tanpa perencanaan yang jelas.

Menganggap Warisan Bisnis = Warisan Aset

Kesalahan terbesar adalah melihat bisnis hanya sebagai harta yang bisa diwariskan, bukan sebagai:

  • organisasi
  • sistem kerja
  • budaya operasional
  • entitas ekonomi yang butuh kepemimpinan profesional

Akibatnya:

  • bisnis diwariskan tanpa knowledge transfer
  • penerus hanya “memegang jabatan”, tapi tidak memahami fondasi bisnis
  • keputusan strategis jadi reaktif dan emosional

Memaksakan Anak Menjadi Penerus, Bukan Mencari Leader yang Tepat

Banyak pemilik bisnis mengasumsikan:

“Yang meneruskan bisnis harus anak kandung.”

Padahal realitanya:

  • tidak semua anak memiliki minat pada bisnis
  • tidak semua punya kompetensi leadership
  • sebagian lebih cocok di bidang lain

Dampak jangka panjang:

  • konflik internal keluarga
  • keputusan strategis tidak objektif
  • bisnis stagnan karena leader by inheritance, bukan leader by capability

Mindset yang lebih sehat:

Penerus bisnis = orang yang paling layak memimpin,
tidak selalu harus anak kandung, bisa jadi profesional, partner, atau generational leader yang dipersiapkan.

Tidak Mempersiapkan Sistem & Hanya Mewariskan “Cara Lama”

Banyak bisnis keluarga masih berjalan berbasis:

  • pengalaman pemilik
  • instruksi verbal
  • budaya kerja informal
  • keputusan intuitif

Saat diwariskan, penerus kebingungan karena:

  • tidak ada standar operasional yang terdokumentasi
  • proses tidak terdigitalisasi
  • knowledge tergantung individu lama

Solusi mindset:

Warisan bisnis bukan hanya bentuk kepemilikan, tapi juga:

  • sistem manajemen yang rapi
  • SOP yang terdokumentasi
  • data dan proses yang terstruktur
  • governance yang profesional

Banyak business owner baru berpikir soal regenerasi saat:

  • usia sudah sangat senior
  • kesehatan mulai menurun
  • bisnis sudah stagnan

Padahal succession planning idealnya dimulai jauh lebih awal:

  • penerus dilibatkan bertahap dari bawah
  • diberi exposure operasional & manajerial
  • diuji di unit bisnis kecil sebelum memimpin bisnis utama

Tidak Membedakan Peran: Owner, Leader, dan Manajer

Di banyak bisnis keluarga, satu orang memegang semua peran:

  • Founder
  • Owner
  • Decision Maker
  • Operasional Manager

Ketika diwariskan, penerus bingung:

  • mana yang harus dijalankan dulu
  • apa perannya sebagai pemilik vs pimpinan operasional
  • bagaimana struktur kewenangan disusun

Padahal idealnya terdapat pemisahan:

  • Owner → pengendali nilai & arah strategis
  • Board / Steering → pengawas & pengambil keputusan tingkat tinggi
  • CEO / Manajemen → pelaksana operasional

Tanpa struktur ini, bisnis rentan konflik ego & campur tangan keluarga dalam operasional harian.

Menghindari Diskusi Soal Kepemimpinan & Arah Bisnis

Topik suksesi sering dianggap sensitif sehingga tidak dibicarakan secara terbuka.

Risikonya:

  • asumsi tidak pernah diluruskan
  • ekspektasi penerus tidak jelas
  • muncul “silent competition” antar anggota keluarga

Salah satu kesalahan mindset:

“Nanti saja dibicarakan kalau sudah waktunya.”

Padahal:

  • keterbukaan sejak awal bisa mencegah konflik
  • keputusan lebih objektif
  • semua pihak memahami perannya

Bagaimana Mindset Succession yang Lebih Sehat & Profesional?

Berikut prinsip yang lebih sustainable:

  1. Bisnis = organisasi, bukan sekadar warisan materi
  2. Penerus dipilih berdasarkan kompetensi, bukan hubungan darah
  3. Sistem & proses harus terdokumentasi sebelum diwariskan
  4. Succession direncanakan secara bertahap
  5. Struktur peran dipisahkan secara profesional
  6. Diskusi transisi kepemimpinan dilakukan secara terbuka

Dengan mindset ini, bisnis lebih siap bertahan lintas generasi dengan berbagai era kepemimpinan dari penerus.

Menjadikan Bisnis Lebih Tertata, Profesional, dan Siap Berlangsung Lintas Generasi

Alih generasi bukan hanya soal siapa yang akan menggantikan posisi pemilik bisnis, tetapi bagaimana organisasi tetap stabil, efisien, dan berkelanjutan setelah transisi terjadi.

Melalui Optima Consulting, kami mendampingi pemilik bisnis untuk:

  • merapikan struktur & tata kelola organisasi
  • menstandarkan SOP & dokumentasi proses kerja
  • mendigitalisasi alur operasional & efisiensi proses bisnis
  • menyiapkan roadmap succession yang realistis & minim konflik

Tujuan kami sederhana:

Kami memastikan bisnis tidak hanya bertahan, tetapi berkembang secara profesional, bahkan setelah kepemimpinan berganti.

Jika Anda ingin berdiskusi tentang kondisi bisnis Anda saat ini dan merancang tahapan suksesi yang lebih matang:

👉 Hubungi Optima Consulting untuk konsultasi awal, Gratis!!

Share artikel ini:

Artikel Terkait