Kenapa di Industri Penerbangan Ada Kelas Ekonomi Premium?
Jika kamu pernah membeli tiket pesawat dan melihat pilihan kelas seperti Ekonomi, Premium Ekonomi, Bisnis, dan First Class, kamu mungkin bertanya: kenapa maskapai punya kelas “Ekonomi Premium”?
Sejarah Singkat Kelahiran Premium Economy
Kelas Premium Economy bukanlah sesuatu yang baru, konsepnya mulai muncul pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an ketika beberapa maskapai besar mencoba mengisi celah antara kursi kelas Ekonomi yang murah dan kelas Bisnis yang mahal.
Maskapai pertama yang sering disebut pelopor Premium Economy adalah British Airways yang memperkenalkan “World Traveller Plus” pada 1992, menawarkan kursi yang lebih lebar dan layanan yang sedikit lebih baik dibanding kelas ekonomi standar. Sejak itu, sejumlah maskapai besar seperti Air France, Lufthansa, Qantas, dan Singapore Airlines turut mengadopsi model ini.
Intinya: Premium Economy lahir sebagai grade baru di tengah fragmentasi kebutuhan pelanggan, antara yang ingin lebih nyaman tanpa membayar tiket bisnis.
Definisi & Diferensiasi Kelas Ekonomi Premium
Premium Economy berada di antara Kelas Ekonomi dan Kelas Bisnis:
- kursi lebih lega,
- ruang kaki (seat pitch) lebih besar,
- kadang termasuk fasilitas tambahan seperti priority boarding, bagasi lebih, dan layanan makan yang lebih baik dibanding ekonomi standar.
Namun semua ini tidak sampai level layanan eksklusif bisnis, sehingga tetap lebih terjangkau.
Alasan Finansial & Strategi Bisnis di Balik Premium Economy
Mengoptimalkan Pendapatan Per Kursi (Yield Management)
Maskapai melihat peluang besar di segmen penumpang yang tidak ingin atau tidak sanggup bayar tiket bisnis, tetapi juga mencari pengalaman lebih baik dibanding ekonomi standar.
Secara finansial:
- Premium Economy umumnya dijual dengan tarif antara 30–70% dari harga tiket Bisnis, namun dengan biaya operasional yang relatif kecil dibandingkan kelas Bisnis.
- Karena yield atau pendapatan per kursi lebih tinggi dari kelas Ekonomi standar, maskapai jadi mengoptimalkan revenue dari kursi yang sebelumnya bernilai rendah.
Ini masuk akal bagi maskapai. Ketika kelas Premium Economy terjual di harga tengah yang optimal, margin profit bisa lebih baik daripada menjual lebih banyak kursi Ekonomi murah atau hanya mengandalkan kursi Bisnis yang terbatas.
Diferensiasi Produk & Segmentasi Pasar
Premium Economy membuat maskapai bisa membagi penumpang menjadi segmen yang lebih jelas:
- Budget-minded — pilih Ekonomi standar
- Value-seeker / sedikit kenyamanan ekstra — pilih Premium Economy
- Perjalanan bisnis tingkat atas / kenyamanan penuh — pilih Bisnis/First Class
Dengan ini, maskapai tidak kehilangan pelanggan yang bersedia bayar sedikit lebih mahal, tapi merasa kelas Bisnis terlalu mahal.
Mengisi Kekosongan Kursi di Kabin & Revenue Diversification
Secara struktur kabin, menambah kelas baru memberi maskapai fleksibilitas alokasi kursi.
Daripada hanya punya:
- 200 kursi Ekonomi
- 30 kursi Bisnis
Mereka bisa punya:
- 150 kursi Ekonomi
- 30 kursi Premium
- 20 kursi Bisnis
Strategi ini membantu mengurangi empty seats dan menciptakan lebih banyak opsi harga yang sesuai preferensi penumpang.
Perubahan Preferensi Penumpang
Studi dan data industri menunjukkan bahwa dalam 10–15 tahun terakhir, banyak penumpang lebih menghargai kenyamanan daripada harga paling murah saja, khususnya pada rute jarak menengah dan jauh (medium-haul & long-haul).
Ini dipengaruhi oleh:
- peningkatan daya beli kelas menengah global
- kebutuhan jarak jauh yang lebih nyaman
- perlunya ruang kaki ekstra untuk penerbangan panjang
Kelas Premium Economy menangkap tren ini tanpa harus membeli tiket bisnis.
Dampak Bisnis & Ekonomi dari Premium Economy
Peningkatan Pendapatan Maskapai
Serangkaian laporan industri penerbangan menunjukkan bahwa kursi Premium Economy sering kali memiliki yield (pendapatan per kursi) yang jauh lebih tinggi dibanding kursi Ekonomi karena penumpang bersedia membayar lebih untuk kenyamanan ekstra.
Dalam struktur revenue:
- kursi Ekonomi = volume tinggi + margin rendah
- Premium Economy = volume moderat + margin lebih tinggi
- Bisnis = volume rendah + margin sangat tinggi
Premium Economy membantu menjadi jembatan pendapatan antara Ekonomi dan Bisnis.
Pengaruh terhadap Competitive Positioning
Maskapai yang menawarkan kelas ini sering dinilai lebih premium di antara pesaing mereka yang hanya punya Ekonomi-Bisnis, terutama di rute jarak jauh. Strategi ini membantu menciptakan diferensiasi produk yang kuat, terutama pada rute trans-continental.
Apa Artinya bagi Penumpang?
Bagi penumpang, Premium Economy bukan sekadar kursi lebih lebar. Ini nilai psikologis:
- merasa dihargai lebih daripada penumpang kelas Ekonomi
- tetap lebih hemat dibandingkan kelas Bisnis
- pengalaman perjalanan yang lebih nyaman (terutama untuk penerbangan panjang)
Studi perilaku konsumen penerbangan menunjukkan bahwa kenyamanan ekstra sering kali jadi pendorong utama keputusan pembelian tiket, lebih dibandingkan sekadar reputasi maskapai.
Contoh Real di Industri Penerbangan
Beberapa maskapai yang sukses mengadopsi kelas ini:
- Singapore Airlines – Premium Economy
- Cathay Pacific – Premium Economy
- Qantas – Premium Economy
- Air France / KLM – Premium Economy
- Lufthansa Group – Premium Economy
Kebanyakan maskapai besar yang berfokus pada rute jarak menengah-jauh melihat kontribusi signifikan pendapatan mereka berasal dari kelas ini, terutama pada periode pasca-pandemi ketika permintaan perjalanan leisure meningkat.
Kesimpulan: Kelas Premium Economy Adalah Strategi Finansial & Pasar
Kelas Premium Economy bukanlah sekadar up-sell kursi lebih nyaman. Ia adalah hasil dari kalkulasi bisnis yang matang:
✔ memberi konsumen nilai tengah antara harga dan kenyamanan
✔ menciptakan revenue stream baru di tengah pelanggan yang bersedia bayar extra
✔ membantu maskapai mengelola yield lebih baik per kursi
✔ memperluas segmentasi pasar tanpa mengorbankan operasional
✔ menciptakan diferensiasi strategis terhadap pesaing
Singkatnya, Premium Economy adalah contoh nyata bagaimana model bisnis bisa berevolusi menjawab perubahan perilaku konsumen dan sekaligus mengoptimalkan pendapatan perusahaan.
Share artikel ini: