Green Building: Memahami Skema Sertifikasi EDGE dan GBCI untuk Bangunan Berkelanjutan
Dalam era perubahan iklim, efisiensi energi dan pengelolaan sumber daya menjadi faktor penting dalam perencanaan dan pengoperasian bangunan. Konsep green building telah berkembang menjadi standar global yang dipakai pemerintah, investor, dan pengembang properti untuk menciptakan bangunan yang lebih hemat energi, ramah lingkungan, dan sehat untuk penghuninya.
Dua skema sertifikasi yang sering digunakan di pasar internasional (termasuk Indonesia) adalah EDGE (Excellence in Design for Greater Efficiencies) dan GBCI (Green Business Certification Inc.) / LEED. Artikel ini menjelaskan keduanya, manfaatnya, perbedaannya, dan mengapa sertifikasi ini penting untuk masa depan properti dan pembangunan berkelanjutan.
Apa Itu Green Building?
Green building adalah pendekatan desain, konstruksi, dan operasional bangunan yang berfokus pada:
- efisiensi energi
- penggunaan air yang hemat
- pemilihan material ramah lingkungan
- kualitas udara dalam ruangan
- pengurangan limbah dan jejak karbon
Bangunan yang menerapkan prinsip ini tidak hanya menggurangi dampak lingkungan, tetapi juga mengurangi biaya operasional, meningkatkan kenyamanan penghuni, dan menambah nilai investasi properti dalam jangka panjang.
Menurut World Green Building Trends, penggunaan teknologi dan desain hijau telah menjadi faktor strategi bisnis yang mendukung daya saing dan pengelolaan risiko di sektor properti global.
Skema Sertifikasi Green Building: EDGE & GBCI
EDGE — Fokus Efisiensi dari IFC/World Bank
EDGE (Excellence in Design for Greater Efficiencies) adalah skema sertifikasi bangunan hijau yang dikembangkan oleh International Finance Corporation (IFC) sebagai bagian dari World Bank Group. Skema ini dirancang khusus untuk membantu bangunan mencapai peningkatan efisiensi energi, air, dan material secara terukur melalui pendekatan digital dan berbasis software.
Kriteria Utama EDGE:
EDGE berfokus pada tiga pilar efisiensi minimal:
- Energi: mengurangi konsumsi energi ≥ 20% dibandingkan bangunan konvensional
- Air: mengurangi konsumsi air ≥ 20%
- Material: penggunaan material yang lebih rendah emisi dan dampaknya ≥ 20%
Metode EDGE memanfaatkan software khusus untuk menghitung baseline konsumsi bangunan konvensional dan menunjukkan potensi penghematan berdasarkan skenario desain.
Kelebihan EDGE:
- mudah diimplementasikan untuk proyek baru maupun retrofit
- cepat menghitung potensi efisiensi lewat tools digital
- cocok untuk proyek berskala besar dan menengah
- relatif lebih terjangkau dibandingkan sertifikasi lain
- bersifat output-oriented (hasil nyata yang terukur)
GBCI / LEED — Skema Komprehensif Global
GBCI (Green Business Certification Inc.) adalah lembaga yang mengelola berbagai program sertifikasi, termasuk LEED (Leadership in Energy and Environmental Design) sebagai salah satu skema green building paling dikenal secara global.
LEED mengevaluasi bangunan berdasarkan beberapa aspek lebih luas dibanding EDGE, seperti:
- lokasi & transportasi
- lahan & ekologi
- efisiensi air
- energi & atmosfir
- material & sumber daya
- kualitas udara dalam ruangan
- inovasi desain
Bangunan dikategorikan menurut poin yang diperoleh menjadi Certified, Silver, Gold, atau Platinum.
Kelebihan LEED:
- cakupan penilaian sangat komprehensif
- sangat dihormati di pasar global
- cocok untuk bangunan premium dan proyek berskala besar
- mendorong inovasi dan praktik terbaik di berbagai dimensi keberlanjutan
Mana yang Lebih Cocok? Perbandingan EDGE dan GBCI/LEED
| Aspek | EDGE | GBCI/LEED |
|---|---|---|
| Fokus utama | Efisiensi energi, air, material | Keberlanjutan menyeluruh (lingkungan & kesehatan) |
| Tingkat kompleksitas | Ringan–Menengah | Menengah–Tinggi |
| Biaya sertifikasi | Umumnya lebih rendah | Umumnya lebih tinggi |
| Output | Target penghematan terukur | Penilaian menyeluruh berbagai dimensi |
| Software pendukung | Tools perhitungan IFC | Tools evaluasi resmi GBCI/USGBC |
| Skala ideal | Proyek baru & retrofit | Proyek besar/kompleks & benchmark global |
Pilihan yang tepat tergantung tujuan proyek:
- Jika fokus utama adalah menurunkan biaya operasional dan efisiensi energi cepat, EDGE sering kali menjadi pilihan praktis.
- Jika proyek ingin mengangkat reputasi premium, daya saing pasar global, dan komitmen lingkungan yang kuat, GBCI/LEED memberikan penanda keberlanjutan yang lebih komprehensif.
Manfaat Penerapan Green Building dan Sertifikasi
Green building yang tersertifikasi membawa manfaat nyata di berbagai dimensi:
Pengurangan Biaya Operasional
Bangunan yang hemat energi dan air secara langsung menurunkan tagihan utilitas serta beban perawatan jangka panjang.
Nilai Investasi Properti Meningkat
Studi pasar menunjukkan properti bersertifikasi hijau cenderung memiliki:
- harga jual lebih tinggi
- tingkat okupansi lebih stabil
- nilai sewa premium
Ini karena penyewa dan investor semakin memperhatikan biaya total kepemilikan (total cost of ownership) dan risiko karbon.
Kepatuhan terhadap Regulasi Lingkungan
Berbagai kota besar mulai menerapkan peraturan yang memacu penerapan green building atau benchmarking emisi bangunan. Sertifikasi federatif seperti EDGE dan LEED membantu memastikan bangunan tidak hanya patuh terhadap peraturan lokal, tetapi juga sesuai standar internasional.
Kualitas Ruang yang Lebih Baik
Bangunan hijau umumnya memiliki sirkulasi udara dan pencahayaan yang lebih baik sehingga berdampak pada kenyamanan dan produktivitas penghuni.
Tren Green Building di Indonesia (2025–2026)
Tren green building di Indonesia terus meningkat, terutama di kota besar dan kawasan industri. Beberapa indikatornya:
- Proyek properti berkelas global semakin mengintegrasikan prinsip green building sejak tahap perencanaan.
- Permintaan korporasi terhadap gedung ramah lingkungan meningkat seiring kesadaran ESG (Environmental, Social, Governance).
- Regulasi lokal di beberapa kota menuntut bangunan baru memenuhi standar efisiensi energi minimum.
Market report global juga menunjukkan bahwa pasar green building terus tumbuh, sejalan dengan ambisi net-zero carbon dan peningkatan efisiensi sumber daya di sektor konstruksi dan properti.
Langkah Implementasi Green Building dengan Skema Sertifikasi
Untuk memulai implementasi green building, langkah tipikalnya adalah:
Penilaian Awal (Pre-Assessment)
Evaluasi kondisi bangunan atau desain awal untuk menentukan skema yang paling cocok (EDGE atau LEED).
Perencanaan & Target Setting
Menetapkan target pengurangan energi, air, dan material sesuai dengan standar sertifikasi yang dipilih.
Desain & Pengujian
Menggunakan software dan tools perhitungan (EDGE/LEED) untuk memodelkan dampak dan memenuhi kriteria.
Implementasi & Konstruksi
Menerapkan desain serta teknologi seperti:
- material hemat energi
- sistem HVAC efisien
- air reuse systems
- pencahayaan LED & sensor otomatis
Audit & Pengajuan Sertifikasi
Dokumentasi, audit internal, dan pengajuan ke lembaga sertifikasi yang berwenang (IFC/EDGE, GBCI/LEED).
Sertifikasi & Review Berkala
Setelah sertifikasi diperoleh, pengawasan periodik diperlukan untuk memastikan keberlanjutan performa bangunan.
Kesimpulan: Green Building sebagai Investasi Berkelanjutan
Green building bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan strategis bagi pemilik properti dan pengembang yang ingin:
✔ menurunkan biaya operasional
✔ meningkatkan nilai investasi
✔ memenuhi tuntutan lingkungan
✔ menarik penghuni atau penyewa yang berkualitas
Baik EDGE maupun GBCI/LEED adalah skema sertifikasi yang diakui global dan memberikan jalan yang jelas menuju bangunan yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan kompetitif di pasar.
Pemilihan skema sertifikasi harus disesuaikan dengan tujuan, anggaran, dan profil proyek. Namun yang pasti, bangunan yang tersertifikasi green building memiliki nilai tambah jangka panjang yang signifikan*.*
Share artikel ini: